Senin, 23 November 2015

Ketika Rakyat Bangga Tenunnya


Rabu, 11 November 2015. Hari ini, saya berkesempatan menyaksikan even Festival Teluk Maumere di sela-sela kunjungan ke kota itu. Bagaimana tak kepincut, iklan radio maupun media cetak jauh-jauh hari sudah memberitahu. Sayang kan kalau dilewatkan?
Nah setelah beres-beres urusan kantor di pukul 09.00, saya pun meluncur ke lokasi. Tak perlu khawatir nyasar sebab warga kota dengan setelan tenun sedang ramai-ramainya mengalir ke tujuan yang sama.
Langit bersih dari awan, yang berarti hari itu cuaca panas sedang membara. Tapi Du'a dan Mo'at kita bukan sembarang orang. Mereka manusia-manusia tangguh, terbukti dengan ketahanan lebih dari seribu penenun yang sudah siap sedari pagi di lapangan terbuka untuk pemecahan rekor even menenun serentak terbanyak pada hari ini!
Seorang pengunjung dari luar negeri dengan setelan tenun

Ke Pusat Cenderamata
Saya mula-mula mampir ke titik start pawai tenun di Pusat Cenderamata. Lokasinya di tanah lapang pada sisi timur Jl. El Tari yang menjadi jalan utama kota itu. Yang menjadi pusat perhatian di sana adalah sebuah panggung tinggi di bagian timur. Sementara di tepi lapangan berdiri sejumlah gedung yang menjadi galeri kerajinan serta kuliner. 

Beberapa kerajinan berupa dompet, bungkus HP, tas tangan, topi, tas samping dll.

Beberapa ruang dihuni oleh swasta sementara yang lain diisi dinas pemerintah. Tampak tersedia sepuluh ruang. Empat ruang pameran tenun, tiga ruang galeri kuliner, perhiasan dan gading. Kuliner di situ tak kalah lezat lho. Kebetulan teman saya Paul Witak ultah dan malam itu kami cicipi hidangan yang tadinya dipajang di lokasi pameran.
Didominasi oleh tenun, barang lain yang dipamerkan di sejumlah galery sungguh menarik. Rak dan meja pajangan tidak saja berisi sarung dan syal/salempang tapi juga kemeja, jaket, topi, dompet dan tas yang dibuat dari tenun asli.
Ada sebuah stand yang menarik mata saya. Tak lain adalah stand yang dihuni seorang pedagang tenun. Sasaran bagus nih hehe. Tanpa kartu pers, nekad saya coba peruntungan jadi jurnalis warga.
''Jualannya tetap buka ya bu?'' saya tanya setelah pernak-pernik galeri atraktif itu jadi obyek foto.
''Iya. Di sini buka tiap hari.'' jawabnya.
''Terus tempatnya cuma di sini ya Bu?''
''Oh, tidak. Ada satu lokasi lain. Di sana lebih lengkap malah.'' sambungnya berpromosi.
Saya lalu bolak-balik menikmati koleksinya yang bagus bagus sambil menanyakan harga. Tak begitu mahal ternyata. Sebuah kemeja cantik warna coklat yang memikat mata dipatok dua ratus lima puluh ribu. Tak begitu menguras kantong. Harga tergantung bahan kain, begitu Si Ibu katakan.
Kemeja dengan harga terjangkau
Pawai dan Peragaan Menenun
Puas di stand pameran, saya lalu beranjak ke tanah lapang. Di sana sudah berdiri tenda yang dipadati peserta pawai tenun. Mereka adalah siswa siswi se kota Maumere. Sementara masyarakat umum lalulalang menyaksikan tenun kebanggaan mereka dipakai beramai-ramai.
Setelan yang dikenakan pun sungguh memikat. Mulai dari aneka busana tradisional hingga yang sudah dimodifikasi menjadi bercitarasa kontemporer.
Tak berapa lama kemudian, peserta pawai pun berarak menuju lapangan kantor Bupati. Di sana sudah siap Peragaan menenun yang akan dilakukan oleh 1057 perajin.

Peragaan menenun terbanyak yang dicatat dalam rekor MURI

Di bawah panas matahari yang sedang meninggi, dengan tudung kepala seadanya, para ibu dengan setelan kebaya warna seragam itu pun siap menenun. Saat panitia menghitung mundur, kegiatan peragaan tenun pun dimulai dan ditutup dengan pembacaan rekor oleh pihak MURI.
Meski kegiatan itu tak saya ikuti hingga tuntas, tetapi ada rasa kepuasan tersendiri menyaksikan bagaimana para gadis dan pemuda bangga memamerkan hasil karya warisan luhur nenek moyang. Mereka tak lantas stagnan dengan penggunaan tenunan itu dalam wujud sarung. Kreasi-kreasi baru pun mereka tempuh dengan menyerap aneka mode fashion yang adalah bagian dari budaya modern.
Berada di sana, kita seolah berada pada titik temu dua era berbeda. Dari masa lalu yang menawarkan motif-motif dan filosofi yang konon sudah berusia tua, hingga ke era modern yang menampilkan kreativitas yang diterima secara mondial.

 Para gadis dengan bangga mengenakan busana dari bahan tenun lokal

Perhatian pihak pemerintah pun patut diapresiasi. Dalam even tersebut, turut hadir sejumlah istri kabinet kerja di bawah pimpinan Ny. Yusuf Kalla. Tokoh wanita Indonesia, Megawati Soekarnoputri pun turut hadir didampingi gubernur NTT.
Bangga sudah jadi pewaris tenun NTT. Profisiat juga buat mereka yang telah menjadi penerus tradisi ini. (Simpet Soge)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar